KETERAMPILAN BERBICARA DALAM
TEHNIK DISKUSI

OLEH

NAMA : ENI HANDAYANI
NIM : E1C 111 029
KELAS : II A

PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur hanya bagi Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Keterampilan Berbicara Dalam Tehnik Berdiskusi”. Solawat dan salam selalu tercurahkan kepada junjungan alam Nabi besar MuhammadSAW yang telah membawa kita dari alam kegelapan menuju alam yang terang menderang seperti sekarang ini.
Penulisan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas akhir mata kuliah Berbicara. Kami menyadari bahwa makalah ini tidak lepas dari dorongan, bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada.
1. Bapak Prof. Ir. H. Sunarpi, Ph. D. Selaku Rektor Universitas Mataram beserta jajarannya.
2. Bapak Prof. Dr. H. Mahsun, M. S. Selaku Dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram.
3. Bapak Drs. Kamaluddin M. A. Ph.D.Selaku Ketua Jurusan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram.
4. Bapak Drs. Ceddin Atmaja M.SI. Selaku ketua program studi.
5. Bapak Drs. Syahbuddin. Selaku Dosen Pembimbing Akademik (PA).
6. Bapak Drs. H. Nasaruddin, M. Ali. selaku dosen Pembina mata kuliah.
7. Bapak dan ibu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah.
8. Seluruh Staf dan Kariawan Akademik Universitas Mataram
9. Kepada orang tua dan semua keluarga yang telah memberikan dukungan moral, material, kasih sayang yang melimpah serta kesabaran dalam menyusun makalah ini.
10. Untuk semua teman-teman dan sahabat dekat saya yang telah memberikan banyak dukungan serta motivasi dalam menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan manpu memberikan masukan kepada semua pihak umumnya dan saya pribadi khususnya. Dalam penulisan makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Selanjutnya kami akhiri dengan ucapan terima kasih.

Mataram, Juni 2012

Penulis

DAFTAR ISI
JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang 1
1.2 Rumusan masalah 2
a. Secara umum 2
b. Secara khusus .2
1.3 Tujuan penelitian 2
a. Manfaat teoritis 2
b. Manfaat praktis 2
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Metode diskusi 3
2.2 Kemanpuan dalam berbicara 3
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Keterampilan berbicara 4
3.2 Aspek konsep dasar berbicara 6
3.3 Tehnik diskusi dengan baik 8
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan 12
4.2 Saran 12
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diskusi merupakan kegiatan keterampilan berbicara antar pribadi atau pihak. Kegiatan ini diadakan dengan tujuan untuk mengemukakan bahwa gagasan atau konsep yang dikemukakan oleh satu pihak merupakan konsep atau gagasan yang lebih baik, lebih benar, dan lebih tepat dibandingkan gagasan pihak lain. Biasanya kegiatan ini dipandu oleh seoarng moderator sehingga arah dan tujuan berdebat relatif terkendali, demikian juga dengan topik pembicaraannya. Oleh sebab itu, amat diperlukan keluasan wawasan dan kecerdikan moderator dalam mengendalikan jalannya pemibcaraan. Peralatan dan sarana diperlukan sesuai dnegan bentuk debatnya. Debat kusir atau debat bebas tidak memerlukan tempat yang tertata teratur serta rancangan waktu yang terprogram.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering berdiskusi (bertukar fikiran) baik secara disengaja maupun tidak disengaja. Kehidupan bertukar pikiran tersebut sejak zaman dulu sampai sekarang telah menjadi ciri khas kehidupan manusia. Pertukaran pikiran (diskusi) tersebut kita sebut pula komunikasi kelompok. Selanjutnya bila kita amati secara teliti kadang-kadang bahkan sering terjadi pertukaran pikiran tersebut tidak teratur dan tidak sesuai dengan jalan pikiran yang sehat. Sebagai contoh dalam pembicaraan ada yang asal (menambah) tanpa argumentasi yang baik pokoknya asal menang ada lagi sementara pembicaraan yang ingin mendominasi suatu rapat, demikian selanjutnya.
Berdasarkan pernyataan diatas maka didalam proses berdiskusi di perlukan keterampilan berbicara untuk bisa menghidupkan atau memotivasi para audiens agar lebih tertarik terhadap diskusi yang sedang berlangsung, baik dalam diskusi yang disengaja maupun yang sebaliknya, dan juga ketika kita menyampaikan sebuah cerita ataupun sebuah berita agar lebih menarik untuk di dengarkan oleh orang lain
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah, “Bagaimana meeningkatkan keterampilan berbicara dalam tehnik berdiskusi?”

1.3 Tujuan Penelitian
tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan keterampilan berbicara dalam tehnik berdiskusi baik secara umum maupun khusus
a. Tujuan umum yaitu dengan mengetahui keterampilan berbicara dan juga tehnik-tehnik berdiskusi dengan baik maka nantinya kita bisa melakukan diskusi baik secara formal maupupun tidak formal yang kan mampu membuat audiens tertarik dengan apa yang kita sampaikan
b. Tujuan khusus yaitu penelitian ini bisa kita jadikan sebagai suatu arahan untuk kita jadikan pedoman supaya nantinya jika kita berbicara ataupun berkomunikasi didalam forum, diskusi, dan juga berbicara dengan orang lain. Kita tahu bagai mana cara kita menyampaikan dengan baik.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat secara teoritis dan praktis
a. Manfaat secaara teoritis yaitu hasil penelitian ini diharapkan menjadi landasan bagi kita semua untuk meningkatkan keterampilan berbicara dalam berdiskusi, khususnya bagi kita yang dalam perguruan tinggi agar bisa melakukan diskusi yang bisa memotivasi semua orang supaya tertarik dengan apa yang kita sampaikan
b. Manfaat secara praktis yaitu sebagai bahan masukan bagi kita agar bisa melakukan diskusi dengan lebih baik lagi dari yang sebelumnya dan dengan cara menguasai tehnik-tehnik berbicara yang efektif di harapkan kita bisa melakukan tehnik berdiskusi yang menarik perhatian para audiens

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Metode diskusi
Pada hakikatnya diskusi merupakan suatu metode untuk memecahkan masalah-masalah dengan proses berfikir kelompok. Oleh karena itu maka diskusi merupakan suatu kegiatan kerjasama atau aktivitas koordinatif yang mengandung langkah-langkah dasar tertentu yang harus dipatuhi oleh seluruh kelompok.
Tinjauan Tentang Metode Diskusi Dori wuwur hendrikus (1991:179), menyatakan bahwa metode diskusi merupakan suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada siswa (kelompok-kelompok siswa), untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat,membuat kesimpulan atau menyusun alternatif pemecahan atau suatu masalah
Johan Stuart mill (powers ;1951 : 263) mengatakan bahwa “satu-satunya cara, wadah tempat manusia dapat mengemukakan beberapa pendekatan untuk mengetahui keseluruhan sesuatu pokok pembicaraan adalah dengan jalan mengetahui segala sesuatu yang dapat dikatakan mengenai hal itu oleh orang-orang yang mempunyai aneka ragam rapat.
2.2 Kemanpuan dalam berbicara
Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan (Arsyad, 1988:17)
Berbicara dengan menyimak merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung serta merupakan komunikasi tatap muka atau face to – face comuniti (Brooks, 1964 :134)

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 keterampilan berbicara
(Moeliono, dkk., 1998:114) dinyatakan bahwa berbicara adalah berkata; bercakap; berbahasa; melahirkan pendapat dengan perkataan, tulisan dan sebagainya atau berunding.
keterampilan berhubungan erat dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa . bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas jalan pemikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan hanya latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir. (Tarigan,1980 :1; Dawson {et al},1963 : 27)
Keterampilan berbicara merupakan kemampuan untuk mengungkapkan atau mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi, kata-kata yang diekspresikan secara luas, terlebih ketika di dalam sebuah diskusi, selain kita harus terampil berbicara, disamping itu juga kita harus menggunakan prinsip berbicara yang efektif, uraian berbicara, tekhnik pembukaan, pola penyajian,dan gaya berbicara. Agar diskusi tersebut lebih menarik.
A. Prinsip-prinsip berbicara efektif
untuk dapat berbicara secara efektif di depan umum atau didalam suatu diskusi, maka pertama-tama kita harus memahami prinsip-prinsifnya
Adapun prinsip berbicara efektif seperti:
a. Prinsif motivasi
b. Prinsif perhatian
c. Prinsif keindraan
d. Prinsif pengertian
e. Prinsif ulangan
f. Prinsif kegunaan
B. Urutan berbicara
Setelah memahami prinsip berbicara efektip, selanjutnya untuk melakukan berbicara yang terampil hendaknya dengan menguasai urutan berbicara
a. Persiapan seperti halnya pengetahuan,urutan atau sistematika, alat bantu atau praga, dan tempat.
b. Penyajian seperti halnya pendahuluan dalam menyampaikan materi, maka hal-hal yang harus disediakan diantaranya (motivasi dan menarik perhatian,tujuan,dan lingkup). Seedangkan pada bagian isinya yang harus di perhatikan adalah (kejelasan,menarik,lancar,dan tertuju). Pada tahap akhirnya yaitu bagian penutup yang berisi (ringkasan,motivasi kembali, dan harapan/saran/ajakan).
C. Pola penyajian
Selanjutnya dalam pola penyajian akan kita bahas bagaimana kita sebagai seorang yang terampil berbicara di lingkungan formal maupun non formal apabila kita di tugaskan untuk menyampaikan sebuah ceramah ataupun berpidato tanpa kita ada persiapan dan temanya telah di tentukan oleh orang lain, kita bisa menyesuaikan pola penyajian yang akan disampaikan dengan tema yang disampaikan. Pola-pola tersebut antara lain:
a. Pola waktu (time order). Ceramah atau pidato yang uraiannya berpola waktu adalah suatu pembicaraan yang urutannya menggunakan waktu.
b. Pola tempat adalah urutannya menggunakan aturan tempat.
c. Pola sebab musabab (reasoning order) adalah pola penyajian yang urutannya menitik beratkan kepada penelusuran sebab musebabsehingga terjadi akibat
d. Pola penmecahan masalah (problem solving order). Pola ini digunakan bila dalam ceramah, bahan yang dibicarakan merupakan masalah yang pemecahannya diharapkan dapat diterima oleh para hadirin
e. Pola pokok bahasan (topical order). Pola ini digunakan untuk menguraikan suatu masalah yang merupakan suatu topic (pokok bahasan). Urutan penyajiannya adalah mengemukakan dulu keseluruhan dan selanjutnya membahas bagian-bagiannya.
f. Pola aspek dan pola konbinasi
D. Gaya berbicara
Yang dimaksud gaya berbicara disini adalah cara-cara mambawakan diri di depan umum atau cara penampilan diri. Penampilan diri ini termasuk gerak gerik raut muka (mimik) gerak-gerik badan serta anggota (pantomimik). Hal-hal yang perlu di perhatikan seperti: pakaian, sikap badan dan cara berdiri,pandangan mata, raut muka dan tangan,sikap jiwa, suara, dan tulisan
3.2 Aspek konsep dasar berbicara
Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan untuk mencapai tujuan tertentu. Beberapa konsep dasar berbicara harus dipahami oleh pengajar sebelum mengajarkan berbicara kepada siswanya. Terdapat lima konsep, yakni: pwnyimak, pembicaraan, media, sarana, dan pembicara (Iskandarwassid, 2008).
1. Penyimak
Keberhasilan berbicara, dapat dilihat dilihat pertama kali pada penyimak atau pendengar. Cara yang digunakan adalah dengan menganalisis situasi dan kebutuhan pingkat pendidikan, endendengar. Dengan cara ini akan menghindarkan dari kesalahan-kesalahan dalam berbicara.
Ada beberapa bidang analisis, yakni:
1) Harapan dan tujuan dari orang yang berbicara
2) Harapan dan keinginan/kebutuhan pendengar
3) Organisasi pada umumnya dan tempat berbicara (maksudnya ketepatan dalam memulai dan menutup pembicaraan).
2. Pembicaraan
Sebelum pembicaraan berlangsung, maka pembicara seharusnya mempersiapkan apa yang akan dibicarakan (Tarigan, 1981:25). Diantaranya:
1. Menentukan materi/topic
Materi atau pembicaraan yang dimaksud adalah menarik, bermanfaat, dan aktual.
2) Menguasai materi
Penguasaan materi dapat ditempuh dengan cara mempelajari, memahami, dan berusaha menguasi materi materi pembicaraan. Yaitu dengan menelaah berbagai sumber acuan yang berkaitan dengan topik pembicaraan.
3) Memahami khalayak
Pembicaraan disesuaikan dengan jumlah, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, minat/ kebiasaan, agama/kepercayaan yang dianut.
4) Memahami situasi
Mengetahui situasi pada saat pembicaraan berlangsung (lokasi, ruangan, waktu, sarana penunjang, dan suasana pembicaraan)
5) Merumuskan tujuan yang jelas
Pembicaraan harus mempunyai tujuan yang jelas. Apakah bertujuan menghibur, menginformasikan, menstimuli, meyakinkan, atau menggerakkan.
3..Media dan Sarana
Pembicaraan dapat disampaikan dengan lebih menarik jika didukung dengan memberikan ilustrasi yang tepat, dan menggunakan alat bantu yang tepat. Misalnya menggunakan kaset, computer, gambar, dsb.
4. Pembicara
Pembicara adalah unsur penting yang menentukan efektifitas retorik (Hendrikus, 2003:144).
1) Memiliki pengetahuan yang luas
2) Kepercayaan diri yang cukup
3) Berpenampilan yang sesuai
4) Memiliki artikulasi yang jelas
5) Jujur, ikhlas, kreatif dan bersemangat
6) Tenggang rasa dan sopan santun
3.3 Tehnik diskusi dengan baik
Diskusi merupakan komunikasi atau interaksi antara dua orang atau lebih dalam suatu forum atau majlis. Biasanya yang diperbincangkan atau dibicarakan adalah tentang suatu hal, masalah ilmu pengetahuan, yang nantinya akan memberikan jalan keluar atau pemahaman yang benar dan baik. Biasanya diskusi berawal dari sebuah topic, kemudian topic ini yang berkembang menjadi sebuah bahasa, lalu menghasilkan sebuah pemahaman melalui topic tersebut.
selain itu dalam tehnik diskusi terdapat beberapa hal yang harus di perhatikan diantaranya:
1. Konsep diskusi memiliki tiga unsure pokok yaitu:
- Dilakukan oleh dua orang atau lebih (kelompok).
- Ada masalah yang menjadi pokok pembicaraan.
- Ada tujuan yang hendak dicapai, terutama kemajuan ilmu dan pengetahuan.
- Tempat sudah ditentukan.
- Waktunya sudah di tentukan
- Pihak-pihak yang terlibat juga sudah jelas kedudukan dan pungsiny.
1. Kegiatan diskusi dapat dilakukan oleh dua orang ataupun lebih, puluhan, bahkan ratusan atau ribuan, dalam situasi resmi ataupun tak resmi; dengan persiapan yang matang dan terencana disertai dengan aturan yang jelas, atau kegiatan berbicara di tempat tak resmi dengan tujuan tertentu; berbicara boleh berbeda; tetapi tetap merupakan satu kesatuan,; menghasilkan ide-ide meskipun berbeda, tetapi tetap satu tujuan, bukan kehendak pribadi, melainkan tujuan kelompok, diwarnai dialog, tanya jawab, atau saling tukar pendapat, beradu argumentasi dengan bukti dan alasan, boleh ada penolakan pendapat atau gagasan, memberi tanggapan, saran, kritik, dan usul, di sisi lain dapat dikemukakan informasi lengkap dan terperinci membawa hasil baik berupa kesimpulan, kesepakatan, pemikiran alternatif, dan lain-lain sebagai hasil pemikiran bersama.
2. Manfaat diskusi bagi peserta
a. peserta dapat memahami suatu masalah, mengetahui latar belakang masalah atau sebab-sebab dan menemukan jalan keluar atau solusi masalah yang sulit
b. peserta dapat menentukan suatu kesepakatan untuk melakukan tindakan, kegiatan, pekerjaan, dan bersikap tertentu
c. peserta dapat menganalisis bersama suatu masalah dan mencari alternatif-alternatif gagasan, rencana kebijakan, tindakan atau keputusan yang tepat
d. peserta dapat memperoleh informasi, ide atau gagasan dari peserta lain, dapat belajar dari peserta lain tentang pengalaman, cara berpikir, cara bersikap, cara mengambil keputusan atau kesimpulan, dan lain-lain
e. peserta dapat saling mengamati, saling menilai, saling belajar, saling menghargai
f. peserta dapat belajar mengemukakan pendapat dan berlatih menanggapai pendapat orang lain.
g. peserta dapat belajar berorganisasi baik sebagai angota maupun staf pimpinan.
3. Masalah dalam diskusi
Masalah yang didiskusikan merupakan suatu persoalan yang dibahas oleh peserta diskusi untuk dipahami, diketahui sebab-sebabnya, dianalisis, dicari jalan keluar atau solusinya, diambil keputusan yang tepat, terbaik di antara yang baik atau tak baik sesuai dengan keadaan dan kebutuhan
Masalah adalah persoalan yang ada antara harapan dengan kenyataan. Oleh sebab itu, kegiatan diskusi merupakan suatu upaya untuk menemukan cara menghilangkan, mengatasi atau memperkecil jarak antara harapan dengan kenyataan.
4. Macam-macam diskusi
a. Sarasehan/ Simposium
Adalah pertemuan dengan beberapa pembicara atau para ahli yang mengemukakan sebuah pidato atau pendapat tentang suatu hal masalah dalam bidang tertentu.
b. Seminar
Adalah pertemuan para pakar ilmu pengetahuan yang berusaha untuk mendapatkan kata sepakat dalam suatu hal.
c. Santiaji
Adalah pertemuan/ pengarahan singkat yang digunakan untuk pengarahan/ pelatihan menjelang pelaksanaan kegiatan
d. Lokakarya
Adalah pertemuan antara sesama pakar ahli dalam bidang tertentu yang membahas masalah praktis atau masalah yang bersangkutan dengan bidangnya.
e. Muktamar
Adalah pertemuan para wakil organisasi untuk berunding atau bertukar pendapat mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama
f. Konperensi
Adalah pertemuan untuk membahasa suatu masalah yang dihadapi bersama.
g. Diskusi panel
Adalah pertemuan yang dilangsungkan oleh panelis dan disaksikan oleh para pendengar, lalu diatur oleh seorang moderator.
h. Diskusi kelompok
Adalah pertemuan untuk mencari pemecahan masalah yang dilakukan oleh suatu kelompok kecil
i. Ceramah
Adalah pidato yang dilakukan oleh seseorang dihadapan orang banyak.
j. Khotbah
Adalah pidato yang berisikan ajaran agama, sepeti : khotbah jumat di masjid.
k. Kasualis
Adalah penelitian bersama atas satu masalah konkret, lalu mengandung berbagai macam kemungkinan jalan keluar. Konkret sendiri maksudnya nyata, benar-benar ada


BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering berdiskusi (bertukar fikiran) baik secara disengaja maupun tidak disengaja. Kehidupan bertukar pikiran tersebut sejak zaman dulu sampai sekarang telah menjadi ciri khas kehidupan manusia. Pertukaran pikiran (diskusi) tersebut kita sebut pula komunikasi kelompok. Selanjutnya bila kita amati secara teliti kadang-kadang bahkan sering terjadi pertukaran pikiran tersebut tidak teratur dan tidak sesuai dengan jalan pikiran yang sehat. Sebagai contoh dalam pembicaraan ada yang asal (menambah) tanpa argumentasi yang baik pokoknya asal menang ada lagi sementara pembicaraan yang ingin mendominasi suatu rapat, demikian selanjutnya.
Keterampilan berbicara berhubungan erat dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa . bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas jalan pemikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan hanya latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir. (Tarigan,1980 :1; Dawson {et al},1963 : 27)
4.2 SARAN
Dalam makalah ini kami berharap agar para pembaca lebih khususnya kami sendiri selaku pembuat makalah bisa lebih mengenal, mengetahui, dan bisa mempraktekan keterampilan berbicara dalam tehnik berdiskusi, supaya nantinya dalam berbicara ataupun melakukan diskusi para audiens bisa tertarik atau menerima, dan paham dengan apa yang kita sampaikan

DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan, dkk. (ed). 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Arsjad, Maidar dan Mukti. 1988. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Brook, Nelson 1964. Language and Language Warning. New York : Horcourd Brace & World, Inc
Dipodjojo, Asdi S. 1982. Komunikasi Lisan. Yogyakarta: Lukaman. Hendrikus, Dori
Dowson, mildred A.[et.al] 1953. Guiding Language Learning. New York: Harcourd Brace and World,Inc
Isjoni. 2007. Pembelajaran Visioner Perpaduan Indonesia-Malaysia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mill, Johan Stuart. 1951. Berbicara Sebagai Suatu Wadah Untuk Mengemukakan Suatu Pendekatan. Bandung
Purwanto, Ari. 2008. Ejaan Yang Disempurnakan Lengkap. Yogyakarta: Tim Pustaka Widyatama.
Tarigan, Henry Guntur. 2008. Berbicara sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Wuwur. 1991. Retorika Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegosiasi. Yogyakarta: Kanisius.